Monday, 16 June 2014

Menuju Puncak! (2)

HELL.o

Setelah melewati hari sebelumnya (cek disini), akhirnya kami melanjutkan perjalanan di hari kedua.

24 Mei 2014
Lagu bangun tidur kuterus mandi ternyata tidak terpakai di gunung. HAHAHA. Udara RaKum (singkatan dari Ranu Kumbolo) pagi itu sangat bersahabat dengan selimut. Embunnya banyak dan cahaya mataharinya menghangatkan tenda kami. Saya berniat keluar tenda dan mendapatkan pemandangan ciamik. Niat untuk ambil air saya urungkan, saya memilih untuk duduk di depan pintu tenda dan menjemur muka (eke udah pake sunblock ya! CATAT!), sailaaah..asa bule nyaa.. 


(keduanya diambil dengan kamera hempon :p)

Setelah puas berjalan-jalan dan ambil air di Rakum untuk persediaan, akhirnya kami melanjutkan perjalanan melalui tanjakan cinta dan oro-oro ombo. GORGEOUS? NATURALLY!

berhasil naik tanjakan cinta tanpa nengok dan berhenti :))

potong rambut ASGAR di bawah pohon rindang :)


prewed kok sendirian sih?

Seorang teman dari team SAR Semeru cerita, dulu waktu tahun 2001-an dia mendaki, pernah ketemu sama macan di Oro-oro Ombo.. Wahahahaha untungnya saya nggak ketemu sih. Pemandangannya cakep banget memang! Macan aja seneng kan..

Setelah melewati padang luas itu, kami berhenti lagi di Cemoro Kandang. Asik kan banyak istirahatnya? Hahaha.. ini kebanyakan foto-foto sih sebenernya..

nanti edit sendiri deh foto prewed nya :))))

Perjalanan kembali dilanjutkan kembali. Sepupu saya terkadang menjelaskan beberapa trik survival. Salah satunya dengan memakan buah kecil mirip raspberry berwana merah atau ungu yang jika ditekan mengeluarkan cairan berwarna merah, persis darah, tapi ketika dimakan rasanya asam manis. Beberapa kali kami berhenti untuk memetik buah itu.. Tapi aku ndak tau namanya kak. Di tengah jalan, sepupu yang merupakan salah satu anggota Arema Rescue berbincang dengan kawan sepermainan. Namanya TARPIN! Ada cerita menarik tentang Tarpin. Cerita lebih lanjutnya nanti yak!

Mendekati pos berikutnya, perjalanan semakin spektakuler.. Tanjakan dan turunan yang seolah tak ada habisnya sangat membuat dengkul lelah. Beberapa kali saya minum madu biar semangat! Dan itu ngaruh banget deh. Lelah terbayar dengan pemandangan indah kok! Tenang sajaaa :)

sampai di pos JAMBAN GAN !

Tiba di Jambangan, terlihat jelas itu puncak Mahameru ada di atas, menjulang tinggi, rasanya jauh sekali. Mana bisa gue mendaki setinggi itu? Yaiilahh..ini mah alamat nginep aja di Kalimati deh ah.. HUFT!
Perasaan minder sering saya rasakan ketika melihat cewek-cewek perkasa pendaki lainnya. Pasti mereka kuat dan sering naik gunung ya, jadi nggak heran mereka kuat gitu.. HAHAHAH emang dasar otak pesimis deh. Ya sudahlah, saya hilangkan semua pemikiran bodoh itu dan kembali berjalan ke Kalimati.

Pos terakhir sebelum summit harusnya Arcopodo. Kalau nggak salah sih gitu ya, tapi sepupu saya bilang disana ramai dan mungkin kita nggak kebagian tempat, jadi kami beristirahat di Kalimati deh sambil menunggu malam.

nyampe Kalimati! yeahs!

sepupu penggiat alam

ambil air di Sumber Mani

Kalimati punya sumber mata air yang ngambilnya musti perjuangan dulu melewati lembah. Gileeehh.. kawan-kawan sayangi air yaaa.. Jangan dibuang untuk yang nggak bermanfaat! Susyeh bangeet ngambilnyaaa..

Setelah makan cireng pedas sebagai bahan makan malam, kami menutup tenda dan memasang alarm jam 23.00 untuk melanjutkan summit attack.. Sebelumnya kami sudah memasukkan beberapa bekal untuk persediaan makanan selama perjalanan ke atas. Oh yeah, I'm so excited!

see you in HEAVEN.

Tuesday, 10 June 2014

Menuju Puncak! (1)

HELL.o

Setelah melalui dilemma pekerjaan yang tak kunjung usai, akhirnya saya berangkat juga ke Surabaya dengan menumpang pesawat terakhir dan tiba pukul 01.00 WIB karena ada keterlambatan pemberangkatan.
Ah, anyway.. dramatisasi tersebut mungkin akan saya tuangkan di kali lain.. HAHAHAHA

Dari Surabaya, saya dijemput oleh sepupu yang tinggal di daerah Purwosari untuk bermalam disana. Yuk lah, yang sodaranya tersebar di seluruh wilayah Indonesia Raya, jangan lupa untuk dihubungi kembali ya (biar ngirit biaya :p). Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam lah ya kalau nggak salah, maklum udah tepar duluan..

Selanjutnya seharian jalan-jalan di Kota Malang sekalian mencari bahan logistik yang akan dibawa pergi naik gunung dan menginap di rumah sepupu yang lain. Kyaaa.. sangat mendebarkan.

23 Mei 2014
Berangkat dari rumah di daerah Malang sekitar pukul 08.00 pagi menuju ke Pasar Tumpang. Di perjalanan, terlihat gunung Semeru berdiri kokoh. Dasar jiwa pengecut ya, belum apa-apa rasanya nggak yakin bisa kesana. "Ini gunung kok tinggi banget ya? Puncaknya kok kecil ya? Apa muat kalau sampai ada ratusan bahkan ribuan pendaki yang naik kesana? Duh, nggak yakin deh bisa naik". 
Sepupu saya tersenyum simpul seraya berkata "Kita ini udah mau menuju kesana lho, nggak ada kata balik lagi atau nggak jadi". Oh my God, nyali sempat ciut melihat puncak Mahameru itu. Perasaan gunung di Bogor yang biasa dilihat di depan rumah, nggak setinggi ini deh.
But, there is no way back. Just face it", ini bakalan keren! Pikir saya dalam hati seraya menghibur diri.

Sampai di Pasar Tumpang, kami bergegas ke Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Salah satu persyaratan naik gunung adalah memiliki kesehatan prima yang dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari dokter. OK LOLOS. 

Oh ya, awalnya saya mau mendaki dengan sepatu basket gitu, kemarin pas jalan-jalan di Malang mau beli sepatu trekking tapi nggak ketemu yang pas di hati (dan di kantong! hahaha) jadinya saya memutuskan untuk pinjam ke salah seorang kawannya sepupu. Sepatu pun diterima, ternyata ukurannya satu nomor diatas ukuran saya. BAIKLAH #akurapopo

Setelah beres, kami menumpang hardtop menuju desa Ranu Pani. Kalau tidak salah perjalanan ditempuh sekitar satu setengah jam, jalanannya nggak terlalu bagus. Udaranya panas, tapi hati tetep adem lantaran pemandangan yang spektakuler :p

turun dulu buat foto :))

Karena kebetulan saya berangkat pada hari jumat, sampai di desa Ranu Pani bertepatan dengan waktunya sholat jumat. Loket tutup. Kami harus menunggu. Ketika dibuka, ternyata ada yang bilang kalau kuota pendakian sudah penuh, tapi kalau sudah daftar online tetap bisa masuk. Hahaha canggih juga ini gunung..

Yah, akhirnya setelah urus sana-sini-situ-sono, tibalah kami di pintu masuk. Merinding. Berdebar. Senang. Pingin ketawa seraya berdoa dalam hati semoga daku selamat sampai balik kesini lagi. Kamipun berfoto.

biarpun panas, tetep hepi :))

Pendakian dimulai, trek awal membuat saya terengah-engah. Kaget dan belum menyesuaikan diri. Panas tubuh meningkat! Saya berkeringat deras di siang bolong dengan tangan pucat. Meeeeen, ini baru dua menit jalan, masa iya eke udah keliyengan? Saya baru ingat, ini pasti karena belum makan siang! HAHAHA napas sudah dari mulut. Yailaaahhh, gimana deh? Masa iya balik lagi buat makan bakso Malang? Pfffttt

Perjalanan berhenti sebentar, saya butuh minum. Sepupu saya mengingatkan untuk tidak minum terlalu banyak, apalagi di GLEK GLEK! Katanya bisa bikin sakit perut dan bikin boros air tentunya. Yaiyalah, secara perjalanan masih 500 tahun lagi yah boook. Akhirnya saya minum cuma seteguk. Ok lanjut.

Kami melanjutkan perjalanan kembali, saya mulai mengikuti ritme perjalanan dan menikmatinya. Trek terus menanjak dan masih terlihat paving block. Konon kata sepupu saya, kalau masih terlihat batakonya, itu masih dibawah. Yah sudahlah, perjalanan terus dilanjutkan. Sesekali kami berhenti untuk duduk, menikmati udara dan sekadar say hi bye ke pendaki lain yang lewat. Menyenangkan :)

Lama-lama perasaan mulai bergejolak, ketika saya nggak merasa capek tapi grup memutuskan untuk berhenti istirahat lama membuat saya muak. HAHAHA. Tapi yang namanya pendakian bersama, semua harus dijalani bersama. Ketika yang satu kelelahan, yang lain harus menunggu juga, walaupun tak lelah.


gelisah nungguin orang :))


Ada yang bilang kalau mau tahu watak orang yang sebenarnya, bawa saja ke gunung. Mungkin disini kelihatan ya saya ini orangnya egois. Tapi saya mencoba menunggu kok, berarti boleh jadi saya penyabar dong *benerinbergo* hahaha.

Perjalanan kami dari Desa Ranu Pani ke Ranu Kumbolo termasuk LAMA BANGET. Setelah melewati banyak pos, duduk-duduk di pinggir jurang, ngobrol ngalor ngidul, dan lainnya.. Akhinya kami sampai. Jam berapa? Jam 19.30 WIB akhirnya kami sampai dan langsung membangun tenda untuk istirahat.

Ranu Kumbolo malam itu dingin sekali, pas ngobrol juga sampai beruap-uap gitu.. Kek di Jepang kan? ngahahahaha. Tadinya mau langsung tidur karena lelah, tapi sepupu bilang dari luar tenda. Katanya mau lihat bintang? OH IYA YA!

Benar saja! Nonton bintang di Ranu Kumbolo sambil pegangan tangan sama pasangan tuh pasti romantis deh, tapi yaudahlah yah karena dateng kesininya sama sepupu jadi nggak usah banyak cing cong. BINTANGNYA BAGUS TAPI AKU NDAK SEMPAT FOTO. hahahaha emang lebih baik datang sendiri deh biar bisa ngerasain tidur dengan atap bintang :D

See you in HEAVEN.

Monday, 19 May 2014

Menuju Gunung (2)

HELL.o

Setelah pembahasan sebelumnya tentang persiapan menuju gunung disini, sekarang ada persiapan lain yang butuh dibahas juga.

Naik gunung boleh jadi sarana olahraga untuk melatih banyak organ tubuh, ya gimana enggak? Otak dipakai buat manajemen waktu. Kaki dipakai buat mendaki hingga ke puncak. Tulang punggung membawa carrier seberat karung beras yang cukup untuk mencegah osteoporosis. And so on.. so on..

Emangnya kuat?

Nah ini!!!
Sekedar mengingatkan akan prestasi daku di jaman muda dulu nih, sebagai juara lomba lari tingkat SLTP se-Kotamadya Jakarta Selatan, tentu bisa dijadikan modal untuk naik gunung lah.. Belum lagi sebagai MVP di liga basket jaman Sekolah Dasar, tentu membuat daku semakin percaya diri menghadapi segala rintangan fisik yang menanti. Walaupun kelihatannya badan nggak bergizi, tapi stamina jangan ditanya..
TAPI ITU KAN DULU!!!

Sekarang, apa kabar dunia? Dengan kesibukan bekerja dan jarang olahraga, tentu saja stamina mulai menurun. Terakhir aktif berolahraga adalah jaman SMA. Oh My God. Gimana ini?

Sebulan sebelum naik gunung ini, saya menyibukkan diri dengan jogging. Setiap weekend, saya berjanji untuk bangun pagi dan bergegas untuk lari di dalam komplek rumah.

Itu janjinyaaa, kenyataannya ternyata saya sering ingkar. Sekalinya jogging, selalu diakhiri dengan semangkok soto mie Bogor, oke ditambah setengah porsi nasi putih, iyaaa oke deh plus minum teh tawar. Oh tuhan ampuni hamba..

Karena jogging di weekend kurang sukses, saya menyiasati dengan jalan kaki setelah pulang kerja. Nah, yang ini cukup efektif. Rute yang saya lalui adalah Jl. HR. Rasuna Said hingga ke Stasiun Sudirman, cukup lah, ada tanjakan juga dan banyak lampu dari gedung-gedung bertingkat yang caem.

Practice makes perfect. Pergi ke gunung perlu persiapan fisik juga kan?

Selain fisik, mental tentu tak kalah penting. Banyak browsing kadang menjadi bumerang buat saya. Kok ternyata gini? Duh, kenapa gitu sih? OMG kok berat amat ya? Begitu sih kira-kira yang muncul dalam pikiran.

Nggak perlu dilawan, apalagi dibantah. Memang pada dasarnya ini harus dilalui kan? Oke, sekarang cari tahu lah kira-kira baiknya gimana. Saya pun banyak berdoa dan ditambah banyak mendengar cerita pengalaman orang lain.

Ini kali pertama, mungkin tidak sempurna, tapi berusaha semaksimal mungkin yang kita bisa!

See you at the top.
H-2.

see you in HEAVEN.